Back to homepage

Testimoni POCL Super Biota Plus "Pertanian"

  • Safari, Dusun Ngudi, Desa Tawang Argo, Kec. Karang Plojo, Kab. Malang, Jatim, Pengaplikasian pupuk dengan pesnat, biaya produksi lebih murah, panen lebih cepat dan serangan hama kurang dan hasil panen hampir 2 kali lipat dibanding sebelum memakai SBP.
  • Soleh, Dusun Ngudi, Desa Tawang Argo, Kec. Karang Plojo, Kab. Malang, Jatim, panen lebih cepat dari 22-25 hari menjadi 21-22 hari setelah memakai SBP.
  • Kesaksian petani Kubis (CD Bali) Desa Bonyong, Kec. Kintamani, Bangli, Bali (Lahan binaan Sekretariat kerja Penyelamatan dan Pelestarian LH) : Daun lebih tebal dan lebar disbanding sebelum memakai SBP.
  • Kasnadi, Desa Pesanggrahan, Kec. Batu, Kotamadya Batu, Jatim : Tanaman Brokoli terkena penyakit akar gajah pada usia 30 HST. Atas saran Pak Parman selaku distributor Super Biota Plus, tanaman langsung di semprot dengan pupuk yang dicampur dengan pestisida nabati. Penyemprotan dilakukan setiap 10 hari hingga 4 kali periode penyemprotan hingga akhirnya penyakit akar gajah dapat teratasi. Selain itu, dengan memakai Super Biota Plus biaya pupuk dan pestisida menjadi berkurang. 
  • Laode Arifin (Ket klp tani mattirowalie), Desa Salo Dua, Kec. Maiwa, kab. Enrekang, Sulsel menggunakan varietas ketan hitam dimana sebelum memakai pupuk SBP biji padi kecil, anakan sekitar 28 sedangkan setelah memakai pupuk SBP, biji padi lebih besar dan jumlah anakan minimal 35 anakan dengan rata-rata jumlah anakan sekitar 45 anakan.
  • Suraji (Ket. Klp tani Simaturu’ Cinnae), kel. Rappang, Sidrap, Sulsel menggunakan varietas ciliwung dimana sebelum memakai pupuk SBP jumlah anakan sekitar 30 namun setelah memakai pupuk SBP jumlah anakan bertambah menjadi sekitar 40 dan dengan perkiraan panen lebih cepat karena tanaman lebih cepat dewasa. Jumlah pupuk yang digunakian 4 kw/ha namun setelah memakai pupuk SBP jumlahnya dikurangi menjadi 3 kw/ha.
  • Saleh (Ket. Klp tani Baji Ada), kec. Kelara, Kab. Jeneponto, Sulsel hasilnya jumlah anakan lebih banyak yakni sekitar 40 anakan dan pada saat penyemprotan pupuk SBP dicampur dengan pesnat.
  • Ismail. Kec. Gattareng, kab. Bulukumba, Sulsel, sebelum memakai pupuk SBP jumlah anakan sekitar 7-8 anakan namun setelah memakai SBP jumlah anakan bertambah menjadi 10 anakan dengan pertumbuhan tanaman lebih cepat.
  • Dg. Ronrong, kampung Esoka, Desa Kindang, kec. Bontonompo Selatan, Gowa, Sulsel menggunakan varietas intani 2. Pada jarak tanam 20x20, jumlah anakan sekitar12-15 anakan namun setelah memakai pupuk SBP jumlah anakan menjadi sekitar 30 anakan dan mengurangi pemakaian pupuk urea dari yang sebelumnya 10-12 karung urea/ha menjadi 7 karung/ha.
  • Karim Husain, (Ket. Klp Tani Padaelo), gabah lebih besar dan berisi dimana sebelum memakai pupuk SBP, berat gabah 55 kg/karung namun setelah memakai pupuk SBP beratnya menjadi 60 kg/karung, jumlah produksi meningkat, dan jumlah anakan lebih banyak.
  • Makhrus, (CD Malang) Desa Kebalenan, Kec Kota, Kab. Banyuwangi, Jatim: Pengaplikasian pupuk pada saat tanaman berumur 7-8 hari dengan hasil warna hijau pada daun tetap bertahan dan tidak kering (Biasanya sebelum tumbuh warna daun mengering dan berwarna kuning).
  • Dg. Tutu, Kampung Bone-Bone, Kel. Maradekayya, Kec. Pattallassang, Kab. Takalar : Memakai Super Biota Plus saat padi berumur 15 HST. Hasil yang diperoleh setelah memakai Super Biota Plus nampak jumlah anakan produktif yang lebih banyak, bulir padi terisi penuh dan tidak hampa, lebih cepat panen 15 hari dan setelah di semprot pesnat walang sangit mati dan tikus menjauh dari tanaman.
  • Kasmudi, Desa Patebon, Jambi Arum, Kendal : Memakai Super Biota Plus pada saat persemaian dan hasilnya meningkat dari yang sebelumnya hanya 100 ikat menjadi 140 ikat.
  • Sitorus, Medan : Luas lahan penanaman 10 rante dan hanya menggunakan pupuk Super Biota Plus dari awal hingga panen. Memakai saat tanaman berumur 20 HST dengan dosis 40 cc/tangki. Hasil yang diperoleh menunjukkan jumlah anakan produktif lebih banyak yakni sekitar 28 anakan, bulir lebih panjang, pertumbuhan merata, lebih cepat panen dibanding yang tidak memakai Super Biota Plus, dan biaya produksi berkurang. Karena dapat menggantikan penggunaan pupuk kimia, Pak Sitorus berharap agar pupuk Super Biota Plus dapat dijadikan pupuk bersubsidi oleh pemerintah. 
  • Gumanti, Desa Sidorejo, Kec. Karang Asem, Kab. Batang, Jateng : Rencana panen pada saat usia tanaman 85 hari sehingga panen dapat dikatakan lebih cepat dari biasanya, terhindar dari penyakit, daun lebih hijau, anakan lebih banyak dan produktif hingga mencapai 40 anakan.
  • Farid, Desa Alas Malang, Kec. Pamanukan, Kab. Situbondo, Jatim : Pertumbuhan lebih cepat, 8 kw/80,4 are, jumlah anakan lebih banyak hingga mencapai 49 anakan, lebih cepat panen, dan hasil meningkat dari biasanya 3 ton beras menjadi 4,4 ton.
  •  Waris, Dusun Dureg, Desa Giri Purwo, Kec. Bumi Asis, Kab. Batu, Jatim, Hasil lebih bagus, biaya pembelian obat berkurang dari 1 juta menjadi 600 ribu,dan dalam pengaplikasian pupuk,  dikurangi dari 300 kg menjadi 180 kg.
  • Edi, Dusun Dureg, Desa Giri Purwo, Kec. Bumi Asis, Kab. Batu, Jatim, Hasil lebih bagus dan biaya produksi berkurang dari 3 juta menjadi 1 juta.
  • Misdi, Dusun Klera, Desa Turungrejo, Kec. Junrejo, Kab. Batu, Jatim : Daun menjadi kuning dan keriting pada umur 20 hari. Setelah disemprot dengan pesnat, pertumbuhan tanaman kembali normal kemudian hama ulat dan lalat yang menyerang akhirnya mati.
  • Makhrus, (Varietas Pioneer) Desa Kebalenan, Kec Kota, Kab. Banyuwangi, Jatim: Biaya produksi lebih rendah dan ulat tidak menyerang.
  • Sabri, (CD Jagung)Klp tani Bontopenno, Desa Bulucenrana, Kec. Marioriawa, Kab. Sidrap, Sulsel : Setelah memakai SBP pertumbuhan jagung dan buah yang dihasilkan baik meskipun bibit yang digunakan F2 sedangkan sebelum menggunakan SBP jagung seringkali tidak berbuah.
  • Saleh, Klp tani Baji Ada, Kec Kelara, Kab. Jeneponto, Sulsel : Aplikasi dengan kombinasi pestisida nabati dapat menghasilkan 9 ton/ha yang sebelumnya maksimal 6 ton/ha, dan tanaman tidak terserang hama.
  • Kandar, Desa Karang Asem, Kec. Patokan, Kab. Situbondo : Setelah menggunakan Super Biota Plus dan pestisida nabati dengan aplikasi awal pada saat tanaman berumur 20 hari dan aplikasi selanjutnya satu kali seminggu dan penyemprotan pesnat dilakukan 1 hari setelah penyemprotan pupuk nampak pertumbuhan cabe lebih cepat sehingga panen juga lebih cepat, buah lebih lebat dan besar, tiap cabang terdapat buah, biaya produksi lebih murah sekitar 10 % dan penyakit trip (keriting) menjadi lebih berkurang dibanding sebelum memakai Super Biota Plus. Sedangkan tanaman yang tidak menggunakan SBP pertumbuhan lambat, buah sedikit dan berukuran kecil.
  • Dg. Lewa, Bontonompo : Sebelum memakai SBP batang cabe lebih kecil dan pendek, buah kecil dan jumlahnya sedikit, bunga sering gugur, dan daun nampak kusam, sedangkan setelah memakai SBP dengan aplikasi pada tanaman sudah 4 kali dengan penyemprotan setiap 10 hari sekali nampak tanaman lebih sehat dengan pertumbuhan yang lebih cepat, buah lebih banyak dan lebih besar, daun lebih segar dan bunga tidak gugur.
  • Dg. Taba, Bontolanra, Kec. Galesong Utara, Takalar, Sulsel : Sewtelah memakai Super Biota Plus buah cabe menjadi lebih besar, lebih banyak dan buah tidak mudah jatuh/gugur 
  • Ahmad Mudasir, Desa Sendang Kulon, Kec. Kakung, Kab. Kendal, Jateng : Memakai SBP pertama kali pada saat tembakau berumur 26 hari (Pada saat sebelum penyemprotan, pertumbuhan tembakau sangat lambat) dan setelah diamati hingga hari ke 30 pertumbuhan tembakau lebih cepat dengan melihat ukuran daun yang lebih membesar (Hasil telah nampak 4 hari setelah penyemprotan).  Pada hari ke 31 dilakukan penyemprotan kedua (luas lahan 36 are) dan setelah diamati pada hari ke 35 nampak bahwa dengan memakai SBP  daun tembakau lebih tebal, lebih tegak, warna daun tidak hijau saja tetapi hijau semburat kuning, dan terasa lebih lengket. Meskipun penyemprotan awal lebih lambat dan tidak sesuai prosedur nampak bahwa hasil pemakaian SBP tetap efektif dan tidak memberi efek negative pada tanaman. 
  • Ngatno, Desa Karang Mulyo, Kec. Pegandon, Kendal : Setelah memakai SBP nampak jumlah buah kacang hijau lebih banyak dibanding jumlah daun, buah kacang lebih banyak dan lebih besar, daun lebih tebal dan lebih hijau, serta batang menjadi lebih keras sehingga tidak mudah rebah.
  • Tugimin, Dusun Plana, Kec Plana, Kab. Banyumas : Setelah 4 kali aplikasi pertumbuhan sangat baik dimana nampak buah yang lebih banyak, daun dan kacang kelihatan mengkilat.
  • Baedi, Desa Plana, Kec. Somagede, Kab. Banyumas, Jateng : Sebelum memakai Pestisida nabati Petani sudah ingin mencabut tanamannya karena mengganggap tanaman sudah tidak dapat berbuah dan panen akibat tanaman yang terserang ulat dan hama bangkak. Bunga dan buah menjadi kering hingga akhirnya rontok. Setelah dilakukan penyemprotan dengan pestisida nabati, satu hari setelah penyemprotan hama bangkak mati, lalu bunga tanaman kembali mekar. 2 minggu setelah penyemprotan pestisida nabati dan pupuk, tanaman akhirnya sudah dapat di panen. 
  • Dg Lewa, Desa Tinggi Mae, Kec. Barombong, Kab. Gowa : Memakai Super Biota Plus pada kedelai saat tanaman masih kecil. Dengan memakai Super Biota Plus biaya menjadi lebih murah karena mengurangi penggunaan urea, penyakit dan serangan ulat jauh berkurang meskipun belum menggunakan pestisida nabati.
  • Muafid, Desa Wates, Kec. Wonoboyo, Kab. Temanggung, Jateng (2008) : Memulai memakai Super Biota Plus dan pesnat pada umur tanaman 20 hari dengan perbandingan 1 tutup botol biota (10 cc)  dan 2 tutup pesnat untuk ukuran 1 tangki. Hasil yang diperoleh yakni pada umur 45 hari tanaman sudah berbuah (buah sudah besar dan masuk kategori AB) dan biaya pupuk lebih rendah.
  • H. Suryanto, Desa Ngaglik, Kec. Kota, Kab. Batu, Jatim Setelah memakai SBP, bunga dan daun lebih segar, penyakit bercak daun berkurang dan biaya lebih rendah dimana sebelum memakai SBP untuk 1 kali penyemprotan biaya penyemprotan Rp 450.00 dan setelah memakai menjadi Rp.95.000/penyemprotan
  • Asnan, Desa Sawahan, Kec. Bumi Asih, Kab. Batu, Jatim, warna buah lebih cerah, halus dan rasa lebih manis, hasil panen sebelum memakai pupuk SBP 2 kw/minggu menjadi 3 kw/minggu.
  • Desa Bonyok, Kec. Kitemani, Bangli, Bali (Lahan binaan Sekretariat kerja Penyelamatan dan Pelestarian LH) : Rasa lebih manis (dipengaruhi oleh kandungan KSO pada pupuk), buah lebih lebat, dan kulit buah lebih mengkilap (Tidak kusam lagi).
  • Sutaryono, Desa Congkrang, Kec. Bejen, Kab. Temanggung, Jateng : Setelah memakai SBP, biji kopi lebih licin dan mengkilap dengan jumlah biji yang lebih besar dan banyak, sedangkan sebelum memakai SBP, biji kelihatan kusam dan sedikit jumlahnya. Hasil produksi untuk biji basah 15 ton/ha sedangkan biji kering 3,5 ton/ha, setelah memakai SBP dengan melihat perkembangan tanaman, produksi diperkirakan meningkat.
  • Mahyuddin, Luwu Utara, Sulsel : Menggunakan pada saat pembibitan dengan melakukan penyemprotan setiap minggu (Telah melakukan 2 kali penyemprotan) yang hasilnya menunjukkan pertumbuhan yang merata dan jumlah daun yang banyak (sekitar 6 lembar/pohon) sedangkan yang tidak menggunakan SBP jumlah daun sedikit (sekitar 3 lembar), pertumbuhan lambat dan tidak merata bahkan masih terdapat bibit  yang tidak mempunyai daun.
  • Anwar, Desa Palejiwa, Kec. Malangke Barat, Kab. Luwu Utara, Sulsel : (Perlakuan dengan menggunakan teknik sambung samping dengan kombinasi penggunaan pupuk SBP, varietas F 01)) menunjukkan pertumbuhan yang cepat dengan buah yang lebih cepat tumbuh (Usia 11 bulan tanaman kakao telah berbuah) sehingga panen juga menjadi lebih cepat. Jumlah buah pada tanaman usia 1 tahun 7 bulan sekitar 100 buah dengan jumlah biji dalam 1 buah mencapai 50 biji. Dalam sepuluh buah kakao berat biji kering dapat mencapai 1 kilo, sehingga jika tanaman menghasilkan 100 buah per pohon maka dalam 1 pohon dapat menghasilkan 10 kilo biji kering. 
  • Azis, Desa Gunug Sari, Kec. Bumiaci, Kab. Batu : Tanaman yang sebelumnya ingin dibongkar karena pertumbuhan tidak baik , namun setelah menggunakan Super Biota Plus dan Pestisida nabati pertumbuhan menjadi lebih baik dan cepat yang ditandai semakin banyaknya bermunculan tunas-tunas baru, bunga lebih segar dan banyak, dan penyakit jambu putih yang menyerang menjadi berkurang.